Fakultas Filsafat UGM

+++ Visi : Menjadi fakultas yang terpercaya dalam pengkajian dan pengembangan Filsafat dan nilai-nilai kearifan lokal yang dijiwai Pancasila. +++
Home

Terorisme Dalam Kajian Filsafat Analitika: Relevansinya dengan Ketahanan Nasional

Email Cetak PDF
Indeks Artikel
Terorisme Dalam Kajian Filsafat Analitika: Relevansinya dengan Ketahanan Nasional
Secara sederhana...
Di dalam analitika bahasa...
Akibat seruan-seruan...
Menurut Schlik dari aliran positivisme...
Daftar Pustaka
Derrida, Jacques (2003)...
Kaelan, 2009,...
Poedjawijatna, I.R., 2003,...
Suseno, Franz Magnis,...
Seluruh halaman

Terorisme kembali menjadi topik pembahasan dunia sejak serangan sangat dahsyat terhadap menara kembar WTC di New York dan Pentagon Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001. Sebagai tertuduh pelaku (subjek) mega-terorisme tersebut adalah jaringan organisasi transnasional al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Secara eksplisit ideologi para teroris yang menyerang Twin Towers dan Pentagon pada 11 Sept 2001 ialah penolakan atas modernitas dan sekularisasi, yang di dalam tradisi filsafat diasosiasikan dengan ‘Konsep Pencerahan’. Di dalam filsafat, ‘Pencerahan’ menggambarkan bukan hanya sebuah periode spesifik, yang secara historis bertepatan dengan abad ke-18, melainkan juga afirmasi atas demokrasi dan pemisahan kekuasaan politik dari kepercayaan keagamaan yang dijadikan fokus oleh Revolusi Perancis dan juga Revolusi Amerika Serikat (Borradori, 2003). Terhadap sistem demokrasi itu, pemimpin jaringan organisasi transnasional ‘al-Qaeda’, Osama bin Laden, menyatakan sebagai berikut :


* They have chosen democracy, the faith of ignorants. Those who obey their King or scholars——-in permitting what God has prohibited, through becoming members of Legislative councils, or prohibiting God has permited  such as Jihad for the sake of God——–they have thus made them their Lord rather than obey God (Osama bin Laden, 18 Oktober 2003) (Berner, 2006).
* “Mereka telah memilih demokrasi, keyakinan dari orang-orang tolol! Mereka yang taat kepada Raja atau kaum cendekiawannya——-dengan mengijinkan apa yang dilarang Tuhan menjadi anggota Legislatif, atau melarang apa yang diijinkan Tuhan seperti ber-jihad demi Tuhan——–mereka berarti telah memper-Tuhan diri mereka sendiri, bukan taat kepada Tuhan” (Osama bin Laden, 18 Oktober 2003)(Berner, 2006).

Osama bin Laden menggugat keabsahan sistem demokrasi, yang kini telah merupakan paham politik universal, yang secara realitas telah dapat diterima dalam beraneka ragam perspektif. Filsafat demokrasi telah digandrungi oleh sejumlah masyarakat non-Barat sejak permulaan abad ke-20. Berbagai koloni negara-negara Barat di benua Asia dan Afrika telah bangkit untuk membangun nilai-nilai demokrasi, di dalam masyarakatnya masing-masing. Dengan sistem politik demokrasi yang diperoleh dari pendidikan politik dan perubahan sistem ekonomi negara-negara kolonialisnya sendiri, para pemimpin dan para tokoh masyarakat di berbagai wilayah-wilayah koloni (jajahan) secara fenomenal mulai mengembangkan nilai-nilai filsafat demokrasi, untuk keperluan membebaskan diri dari belenggu kolonialisme. Dalam konteks Indonesia yang dulu disebut Hindia Belanda, fenomena tersebut dikenal dalam sejarah sebagai ‘Kebangkitan Nasional’. Paham-paham politik Barat yang lain seperti Nasionalisme, Pan-Islamisme, Sosialisme atau Komunisme adalah juga yang membuka perspektif bagi emansipasi kaum pribumi dengan para kolonialisnya. Paham-paham Barat itu sekaligus juga memungkinkan pembebasan bangsa-bangsa pribumi dari ‘kurungan besi’ feodalisme, dengan melalui pembentukan partai-partai politik serta serikat-serikat kerja modern. Mereka yang merupakan lulusan pendidikan Barat adalah para kader bangsa yang sudah siap ketika kekalahan Jepang, untuk kemudian membuka peluang historis mengisi kemerdekaan negaranya. Oleh karena itu negara-negara bangsa (Nation States) termasuk Republik Indonesia, dulu telah didirikan oleh para pemimpin patriotik dari kelompok kekuatan politik ‘pribumi’, yang lahir dalam modernitas intelektual dan pandangan-pandangan serta juga transformasi-transformasi yang distrukturkan oleh Barat (Suseno,2006). Kini berbagai derivatif yang diharapkan dari pelaksanaan demokratisasi adalah munculnya komitmen untuk suatu proses demokratisasi yang damai, tanpa kekerasan dan tidak ‘berlumuran darah’. Namun ternyata konsep teoritis demokrasi, bukan teori politik yang begitu saja dapat dikatakan etis (Nurtjahjo, 2006). Menurut Bung Karno (1958) ideologi Kapitalisme di dalam praktek adalah demokrasi tetapi juga agresi, dua hal yang paradoksal. Di masa sedang berjaya (Kapitalismus im aufstieg) mereka menggunakan etika politik, sedangkan di kala posisinya sedang menurun (Kapitalismus im niedergang) mereka melakukan agresi. Juga komitmen damai dari filsafat demokrasi, tidak selalu hadir di dalam praksisnya (Nurtjahjo, 2006). Hal ini merangsang kebangkitan fundamentalisme Islam melawan alternatif penerapan kekuasaan keras (Hard Power) yang diambil oleh Amerika Serikat ketika di bawah administrasi Presiden George Walker Bush dan fihak Barat. Kekuatan perlawanan kaum fundamentalis tersebut dibangun secara semesta, dengan menggunakan dalih patriotisme dan spirit keagamaan. Dengan keyakinan terhadap kebenaran kekuatan yang dibangun itu, maka artikulasi politik yang santun yang mendahulukan dialog, negosiasi dan kompromi tidak lagi mendapatkan tempat (Arubusman,2006).

Pada puncak dari perkembangan keadaan global yang saling berhadapan ini, terletak terorisme yang menilai jiwa manusia sedemikian rendah, seolah-olah tidak ada bedanya dengan batu. Betapapun baik misalnya tujuan dari sesuatu konsep, tetapi jika kekerasan yang dipilih untuk mencapainya, maka secara keseluruhan konsep itu tidak akan mendapat legitimasi sebagai sebuah kebenaran. Terorisme yang merebak sejak menjelang dan awal abad ke-21 merupakan alternatif dari komunikasi yang terdistorsi secara resiprokal, antara Osama bin Laden dengan George Walker Bush, yang masing-masing berlaku sebagai sampel yang representatif dari dua kutub yang saling berhadap-hadapan. Bahasa yang digunakan dalam terorisme, walaupun masuk akal, namun saling tidak dapat dimengerti oleh para komunikannya. Bahasa disebut masuk akal karena digunakan oleh manusia, sedangkan yang tidak masuk akal adalah bahasa yang tidak digunakan oleh manusia, misalnya bahasa hewan. Bahasa terorisme tersebut hanya dapat diberi makna oleh lingkungan hidup atau habitat terorisme itu sendiri, yaitu masyarakat fundamentalis. Fundamentalisme yang melahirkan terorisme adalah suatu ideologi politik, bukan agama Islam yang secara sinis kerap dikaitkan oleh fihak Barat dengan ideologi tersebut. Fundamentalisme adalah ketaatan manusia terhadap keyakinannya dengan cara pandang politis. Dalam beberapa hal aktivis politik tersebut tidak tertarik pada etika agama dan etika kebudayaan. Membedakan antara Islam sebagai keimanan dengan ideologi politik Islam sebagai fundamentalisme agama, merupakan hal penting untuk menolak klaim para teroris sebagai representasi Islam (Tibi, 1988).

Kajian terhadap terorisme ini menggunakan objek formal filsafat analitika bahasa. Filsafat analitika Bahasa Wittgenstein menjelaskan, tentang praktek penggunaan ungkapan bahasa dalam kehidupan manusia. Ungkapan bahasa dalam pengertian ini bukanlah bahasa secara harfiah, melainkan ungkapan di dalam realitas kehidupan manusia. Sebagaimana halnya seniman sastra menciptakan karya sastra, sajak, novel; protes atau demo merupakan ungkapan bahasa dalam kehidupan politik; menguji hipotesis dan melakukan analisis adalah ungkapan bahasa dalam kehidupan ilmiah; menari adalah ungkapan bahasa dalam kehidupan seni tari dan berbagai bahasa dalam kehidupan lainnya. Menurut Wittgenstein, ungkapan bahasa yang digunakan dalam konteks kehidupan itu sangat beragam, bahkan tak terbatas banyaknya, bahkan yang lama telah hilang dalam kehidupan masyarakat, untuk kemudian muncul dalam konteks kehidupan yang baru, dengan menggunakan ungkapan bahasa tertentu di bawah rule of the game yang tertentu pula (Wittgenstein, 1983).

Penindasan dan ketidakadilan sosial seringkali disebut sebagai penyebab dari terorisme yang terjadi di abad ke-21 ini, sehingga kebangkitan terorisme internasional juga tidak terlepas dari konstelasi geopolitik global, khususnya di Timur Tengah. Namun apa pun penyebab dan motivasi terorisme, peristiwa ultimate sudden attack (serangan sangat mendadak) pada tanggal 11 September 2001 yang dilakukan oleh jaringan al-Qaeda, telah menimbulkan rasa marah dan benci di setiap hati manusia saat itu. Siapa pun yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut, jelas sudah melakukan sesuatu kesalahan dan tindakan kriminal. Tetapi sebaliknya, tragedi tersebut sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai suatu alasan, untuk kemudian Amerika Serikat boleh melakukan aksi pembalasan dengan melakukan pembantaian yang serupa juga terhadap orang-orang lain yang tidak bersalah (Castro, 2002). Aksi kedua-duanya, baik terorisme maupun kampanye anti terorisme yang telah mengakibatkan manusia yang tidak bersalah menjadi korban, merupakan tindak kejahatan terorisme. Korban terorisme tidak pernah mempersoalkan, apakah mereka terbunuh atau cacat sebagai akibat dari suatu kesengajaan atau ketidak sengajaan. Terorisme yang dilakukan oleh teroris atau pejuang, juga bukan merupakan hal yang signifikan bagi para korban, yang telah kehilangan segala-galanya, termasuk dan terutama kegelapan akan hari depan anak-anaknya. Dewasa ini masyarakat internasional termasuk bangsa Indonesia masih dibayangi oleh rasa khawatir akan adanya bahaya terorisme yang dapat muncul lagi sewaktu-waktu. Hal ini mengingat hakikat karakter terorisme yang selalu mampu untuk timbul kembali, setelah ketenggelamannya. Sifat tersebut laksana unslaying hydra (hewan imajiner Yunani yang tak pernah mati) (9/11 Commission Report, 2004) atau Candabirawa (raksasa sakti azimat Raden Narasoma dalam cerita wayang Jawa, yang selalu ‘patah tumbuh hilang berganti’). Terorisme dapat terjadi secara tiba-tiba terhadap sasaran  siapa saja, tak terkecuali, tanpa batas-batas teritorial negara (borderless) di belahan dunia mana pun. Suatu hal yang sangat menakutkan umat manusia karena terorisme tidak mengenal rasa belas kasihan. Anehnya, mengapa kekejaman seperti pembantaian terhadap orang lain yang tidak bersalah dan terkadang pengorbanan diri mereka sendiri, misalnya dalam peristiwa suicide bomb (bom bunuh diri), terkadang juga mendapat pembenaran? Karena sejarah mencatat, bahwa istilah ‘terorisme’ sebagai suatu definisi bersifat inkonsisten. Beberapa individu yang sebelumnya dikenal masyarakat sebagai pelaku terorisme, pada waktu yang berbeda dan keadaan yang berubah, telah menjadi pahlawan yang di elu-elukan masyarakat. Contohnya, beberapa pemimpin kelompok teroris Yahudi seperti Yitzhak Shamir dan Manachem Begin, pada akhirnya berhasil mencapai kedudukan sebagai Perdana menteri Israel, setelah nama mereka dulu pernah tercatat sebagai pemimpin-pemimpin ’Palmach’ (1940) dan jaringan ’Irgun’ (1944), organisasi-organisasi kaum teroris yang paling dibenci Inggris bahkan dunia internasional. Semua kini telah berubah dan keadaan bahkan telah terbalik, karena para teroris yang dibenci dunia itu kini diakui masyarakat internasional sebagai pahlawan-pahlawan. Dengan demikian terorisme menjadi sulit untuk dinyatakan sebagai suatu kejahatan yang tercela sepanjang sejarah, walaupun sepanjang sejarah pula, terorisme dalam etika, norma, moral, dan estetika kehidupan umat manusia tidak mempunyai nilai. Tapi mengapa para teroris tersebut justru menilai jiwa manusia hanya sebagai gejala materi semata-mata, membunuh tanpa batasan, dengan tak terkecuali? Jawaban atas pertanyaan tersebut bersifat epistemologis, yaitu karena para teroris dan simpatisannya sama-sama mengalami kegalatan kategori (category mistake). Kegalatan kategori kategori mengandung arti ketidakmampuan untuk membedakan sesuatu terhadap yang lain.

Memang terorisme adalah suatu fenomena sosial yang sulit untuk dimengerti, bahkan oleh para terorisnya sendiri. Tanpa pendidikan yang memadai sekalipun, seseorang dapat melakukan aksi terorisme yang menggetarkan dunia dan berimplikasi sangat luas. Taktik dan teknik teroris terus berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan strateginya berkembang seiring dengan keyakinan ontologis atas ideologi atau filsafat yang menjadi motifnya. Terorisme menggunakan cara-cara, ungkapan-ungkapan dan bahasanya sendiri dalam perjuangan mewujudkan tujuannya. Mereka menggunakan pembenaran epistemologis sendiri dan menafsirkkan ideologi-ideologi dan ungkapan kebenaran dengan cara melakukan manipulasi makna. Bahkan manipulasi ungkapan bahasa kebenaran tersebut kerapkali bersumber dari kaidah-kaidah agama, namun ditafsirkan dan dimanipulasikan dengan ungkapan bahasa sebagai dasar pembenaran dalam segala tindakannya yang revolusioner dan dramatis.

Terorisme dapat dilakukan oleh negara seperti Israel bahkan Amerika Serikat dan juga dilakukan oleh jaringan transnasional seperti al-Qaeda. Jadi, bukan hanya objek, subjek dari terorisme juga tidak terbatas. Siapa saja, fihak mana saja, termasuk individu, beragama atau tidak beragama, tercatat dalam sejarah umat manusia, pernah melakukan terorisme. Perlengkapan atau alat mutakhir yang dipergunakan oleh jaringan organisasi teroris adalah bom, gas beracun, kimia, biologi, senjata strategis seperti roket termodifikasi. Menurut Golose (2008) sasaran terorisme juga akan berkembang ke arah penghancuran lingkungan, dengan tujuan agar umat yang hidup di suatu jazirah sasaran akan mati oleh kerusakan lingkungan hidupnya (Eco-terrorism). Demikian pula rencana penggunaan narkotika yang menyerang syaraf dalam anatomi tubuh manusia, mulai dari otak sampai organ-organ vital lain (Narco-terroism), akan lebih efektif dan efisien sebagai sarana pemusnahan massal.



Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 27 Januari 2010 10:12  

MENU UTAMA

Pengabdian

Pengabdian Tahun 2012

article thumbnail

Daftar Pengabdian Masyarakat Tahun 2012


Pengabdian Lainnya

Berita Keluarga

Berita Duka - Prof. Dr. Damardjati Supadjar

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un

Telah berpulang kepada-Nya, guru dan sahabat kita, Prof. Damardjati Supadjar, meninggal hari Senin, 17 Februari 2014 Pkl. 17.05 wib di dalem Saren. Jenazah akan dimak [ ... ]


Berita Lainnya

Pengunjung Online

Kami punya 38 tamu online

visitors

top countries

Link Filsafat

Aprillins' Site
Artikel dan Direktori Filsafat
Gunawan's Site
Tak akan menyerah dengan keadaan...
Omahsamir
P o s t s c r i p t


Sarana TIK

Beberapa Link Layanan TIK

Form Masukan

Silahkan download form yang sudah kami sediakan untuk masukan. Download file: form_keluhan_pengguna.doc.
Form yang sudah diisi silahkan dikirim ke alamat email: tini-sartini@ugm.ac.id
Para Alumni diminta mengisi tracer studi ke: http://tracer.kjm.ugm.ac.id
Terima Kasih.